Fungsi Kartu Tani Sampang Masih Kontroversi di Kalangan Petani

Ilustrasi

SAMPANG, Newsrepublik.com- Mulai diberlakukan Kartu Tani sebagai sarana untuk penebusan Pupuk Bersubsidi, yaitu bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pupuk para petani secara menyeluruh dengan mengukur luas lahan milik petani masing-masing. Namun faktanya sejauh ini masih belum sesuai seperti yang di harapkan dari program tersebut, kini masih banyak petani yang mengeluh karena banyak tidak bisa menebus pupuk bersubsidi dengan berbagai kendala.

Kendala yang dialami oleh para petani yaitu, data identitas diri yang tidak masuk ke data elektrik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (e-RDKK). Minimnya pemahaman apa itu fungsi kartu tani, entri data para petani yang di usulkan mayoritas data lama. Sehingga banyak identitas penerima pupuk bersubsidi tidak sesuai baik itu nama dan Nomor Induk Kependudukan (NIK) KTP para petani.

Bacaan Lainnya

Seperti yang terjadi di beberapa Desa Kecamatan Camplong Kabupaten Sampang. Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun ada Dua Desa yaitu Desa Medupat dan Desa Pemolaan Kecamatan Camplong. Minim kuota penebusan pupuk bersubsidi lantaran data para petani dari ke Dua Desa itu hanya sebagian kuota besaran pupuk bersubsidi yang diterima berdasarkan Data e-RDKK tahun 2020.

Menurut Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Azis Suhaibi mengatakan, pihaknya sudah mengajukan sesuai kebutuhan para petani, namun setelah data e-RDKK itu keluar petani hanya sebagian yang bisa menebus pupuk bersubsidi.

“Sudah kami ajukan sesuai dengan luas lahan, namun dari sekitar 3 ribu petani yang ada kuota pupuk bersubsidi itu hanya sebagian,” terang Azis PPL BPP Camplong, Selasa (20/10/20).

Sementara di tempat yang berbeda, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian (Dispertan) Sampang, Suyono mengatakan, terkait nyaknya petani yang masih belum masuk ke data e-RDKK secara aturan itu tetap bisa menebus pupuk bersubsidi.

“Secara aturan jika tidak ada di data e-RDKK itu tidak bisa membeli pupuk bersubsidi, ” ungkap Suyono saat ditemui diruang kerjanya.

Lanjut Suyono menjelaskan, menurutnya, banyaknya data petani yang masih belum masuk di Data e-RDKK karena minimnya pemahaman fungsi kartu tani. Kami sudah gembar gemborkan melalui sosialisasi dan penyuluhan di setiap wilayah, kalo kartu tani ini sangat penting untuk melakukan penebusan, namun masih tidak menghiraukan,” tambahnya.

Namun untuk memenuhi kebutuhan pupuk bersubsidi para petani, pihaknya sudah melakukan berbagai upaya yaitu dengan cara agar setiap kelompok tani agar mengakomodir petani yang sudah masuk di data e-RDKK agar nantinya secara bersama-sama melakukan penebusan pupuk bersubsidi.

“Ketika nanti ada petani yang belum masuk di data e-RDKK dan tidak mampu membeli pupuk Non Subsidi karena harganya hampir 3 kali lipat, Bisa tercover oleh kelompok ini. Selebihnya harus membeli pupuk yang Non Subsidi,” pungkasnya.(jk/kh)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan