Cerita Video Viral, Misyono Alias Nono Anak Yatim Saat Ditandu yang Luput dari KIS/BPJS

BONDOWOSO, TerbitanNews.com – Misyono Alias Nono (13 tahun) seorang anak yatim 3 bersaudara, warga dusun Petung, Desa Penang, Kecamatan Botolinggo, Bondowoso, Jawa Timur, yang tengah sakit harus ditandu perjalanan dua jam menuju mobil ambulan Saber Janda makelar akhirat.

Lantaran akses jalan menuju rumah warga yang sakit, tidak bisa dilalui oleh ambulan atau kendaraan roda empat. Lantas video saat ditandu itu viral di media sosial.

Bacaan Lainnya

Diceritakan dokter Yusdeny Lanasakti, bahwa Misyono Alias Nono itu tiga bersaudara yang kini menjadi yatim karena baru ditinggal ayahnya. Tepatnya meninggal 1 tahun yang lalu.

Pihaknya tahu saat membuka kiriman video dari Yudhi Eko Susanto, tentang adik bernama Misyono sapaan Nono (13 tahun). Menurutnya, Nono itu mengalami beberapa kali pingsan dan mengeluh sakit perut.

“Saya putuskan membawa ambulan dan tim Saber Janda yang terdiri dari 3 orang, dan berlima kita berangkat jam 9 pagi tadi, Rabu (19/2/2020). Di tengah perjalanan saya koordinasi dengan Kepala Puskesmas Botolinggo, dr. Sari, beliau juga mengirimkan 2 orang tim ke lokasi,” papar Yusdeny.

Lanjut dia, dalam perjalan menuju rumah Nono, jalannya hancur, licin dan berbahaya. Padahal sebelumnya sudah 3 kali ke tempat ini, kata Yusdeny, tapi hanya bisa menggunakan sepeda Trail. Hingga ambulan kita parkir dibawah bukit.

Setiba di rumah Nono, tim Saber Janda kaget bukan main. Melihat kondisi Nono yang jauh lebih berat dia bayangkan

“Kondisinya ini jauh lebih berat dari yang saya bayangkan. Adik Nono tidak bisa bicara, tidak bisa makan, dan tulang-tulang iganya menonjol. Cuma iso nangis Ya Allah,” ungkapnya.

Sehingga pihaknya memutuskan harus dibawa ke RSUD. Rencana awal yang hendak dibawa ke Puskesmas Botolinggo dibatalkan.

Permasalahan muncul karena Nono tidak bisa dibawa atau naik motor. Sebab, perubahan posisi membuatnya mengeluh nyeri.

“Kita putar akal, awalnya mau pake sarung dan bambu, ganti pake dipan. Akhirmya opsi terakhir kita pake bambu. Kita harus bawa ke RSUD,” semangat Yusdeny.

Seiring perjalanan waktu, ternya saat hendak ditandu warga setempat yang laki-laki rata-rata masih dikebun. Cuma ada 2 orang laki-laki saja.

“Kita telpon Kepala Desa koordinasi minta bantuan. Tapi kita putuskan langsung jalan saja, karena langit mulai mendung. Jadi saya,temen-teman dan 2 orang penduduk lokal yang awalnya bergantian menandu,” terangnya.

Tapi MasyaAllah, sambung Yusdeny, disepanjang jalan saat ditandu bertemu dengan penduduk setempat. mereka ikut bantu. Pihaknya sanhat terharu, mungkin ada 15 orang, pada akhirnya yang ikut.

“Selama perjalanan, adik kita ini sabar betul, gak ada dia mengeluh sedikitpun. Bayangkan 2 jam kita berjalan disertai hujan deras, menuju perjalanan lokasi ambulan saber janda.

Yang mengharukan, kata Yusdeny, saat sampai di mobil ambulan, mereka (warga red) menolak pemberian uang, dan alhamdulillah kita bawa adik ke UGD RSUD dr Koesnadi untuk dirawat.

“So, potret adik kita ini riil ada gaes.Sungguh kita tertohok, masih ada kondisi ini di Bondowoso,” sindirnya.

Selain itu, adik itu juga tidak memiliki KIS/BPJS, dia yatim dan 3 bersaudara. Ayahnya meninggal 1 tahun yang lalu. Jadi dia gak mampu untuk hanya sekedar membawa anaknya ke puskesmas terdekat, dia gak punya biaya

“So, bapak ibu gak usah saling menyalahkan siapa-siapa, kita juga gak berniat mencari siapa yang salah dan siapa yang benar. Ini tanggung jawab kita bersama ini,” pungkasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan