New Normal

  • Bagikan
Karom Rahmatullah

Setelah memberlakukan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) selama dua bulan, pemerintah berencana membuat skenario baru dengan sebutan new normal.

New normal memberikan sejumlah keleluasaan kepada publik dengan menjalankan protokol kesehatan. Dengan membuka kembali aktivitas dan aksesibilitas seperti tempat ibadah, hiburan, belanja dan liburan yang diyakini dapat memulihkan perekonomian baik dalam skala makro dan mikro. Sekaligus mengontrol penyebaran dengan menjalankan protokol kesehatan.

Keputusan ini diperkuat dengan regulasi melalui Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/328/2020 tentang Panduan Pencegahan dan Pengendalian COVID-19 di Tempat Kerja Perkantoran dan Industri agar penyebaran Corona tidak meluas.

Banyak kalangan berpendapat kebijakan itu tidak pas mengingat kurva COVID-19 masih belum turun ditambah lagi ancaman gelombang kedua yang mulai terjadi di berbagai negara.

Sebagian publik lain bisa menerima situasi ini mengingat sudah cukup lama berada dalam situasi isolasi dari dunia.

Tak dapat dipungkiri, pandemi ini membawa berkah bagi lingkungan. Ia memaksa perilaku manusia menahan diri mengurangi mobilitas dan industrialisasi, sebagai penyebab tingginya polusi dan kerusakan alam. Para pakar, akademisi dan aktivis lingkungan sudah mengingatkan jauh sebelum ini, bahwa lingkungan perlu istirahat dari aktivitas pertumbuhan ekonomi yang cenderung eksploitatif.

Dalam konteks lain kemunculan berbagai virus juga karena perilaku manusia dalam rekayasa genetika yang mengganggu keseimbangan ekosistem alam. Sebut saja flu burung, flu Spanyol dan terakhir ini COVID-19 berasal dari kelelawar.

Dengan tidak menafikan ancaman kematian akibat COVID-19, virus ini juga mengubah wajah bumi dan lingkungan hidup atas polusi industri dan mobilitas publik. Membaiknya kualitas udara dan lingkungan global merupakan dampak tak terduga.

Industri di berbagai kawasan tidak lagi mengepulkan asap, limbah industri tidak lagi mengalir ke sungai-sungai. Rutinitas publik berubah statis, mobil terparkir di garasi-garasi rumah.

Skema new normal meskipun mendapatkan berbagai kritik, harus dimaknai sebagai upaya bagi semua pihak dalam menjalani kehidupan dan “berdamai” dengan alam.

Perubahan perilaku dan hidup dalam era new normal jadi sebuah keniscayaan. Dalam pandangan penulis, pemerintah perlu memperluas perspektif new normal tidak hanya dalam pendekatan kesehatan, sosial dan ekonomi juga memiliki lingkungan.

Dalam skema new normal penulis memberikan highlight terhadap kebijakan politik lingkungan. Pertama, new normal harus diartikan sebagai sebuah perubahan paradigma pertumbuhan industri berbasis pada energi terbarukan. Mulai mengurangi ketergantungan terhadap energi kotor seperti batubara dan energi fosil lain untuk kebutuhan transportasi yang jadi salah satu penyebab utama kualitas udara buruk di berbagai kota.

Mempertahankan kualitas udara yang sudah bersih selama pandemi akan mempermudah upaya pemerintah dalam menurunkan emisi karbon sebagai bagian komitmen terhadap penurunan emisi global.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: